Nasional

KPK Mengajar di Deo Gloriam Sumba Barat Daya, Pelajar Diajak Berani Tolak Korupsi

×

KPK Mengajar di Deo Gloriam Sumba Barat Daya, Pelajar Diajak Berani Tolak Korupsi

Sebarkan artikel ini
Pelajar SMP-SMK Deo Gloriam bersama para guru dan peserta kegiatan KPK Mengajar berfoto bersama di halaman sekolah, Kecamatan Wewewa Barat, Sumba Barat Daya, Rabu (12/8/2026). (Kominfo Sumba Barat Daya)

Detik Timur – Pendidikan antikorupsi tidak selalu dimulai dari pembahasan mengenai kasus besar. Di lingkungan sekolah, sikap itu bisa dibangun dari kebiasaan sederhana berkata jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan berani mengatakan tidak terhadap tindakan yang keliru.

Pesan tersebut disampaikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia kepada peserta didik SMP-SMK Deo Gloriam, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, melalui kegiatan KPK Mengajar, Rabu (12/8/2026).

Para siswa diajak mengenali perilaku yang dapat mengarah pada tindakan koruptif dalam kehidupan sehari-hari. KPK juga menekankan bahwa integritas bukan sekadar pengetahuan tentang korupsi, melainkan sikap yang perlu dibiasakan sejak usia sekolah.

Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah petty corruption atau praktik korupsi skala kecil. Perilaku semacam itu sering kali dianggap sepele karena dilakukan dalam situasi sehari-hari dan nilainya tidak besar.

Masalahnya, sesuatu yang awalnya dianggap biasa dapat berubah menjadi kebiasaan ketika terus dibiarkan. Dari sinilah kesadaran antikorupsi menjadi penting, termasuk kemampuan untuk mengenali dan menolak perilaku yang tidak benar sejak awal.

Kegiatan di SMP-SMK Deo Gloriam tersebut merupakan bagian dari program Jelajah Negeri Bangun Antikorupsi (JNBA) 2026. Tahun ini, program tersebut memasuki tahun ketujuh dengan mengusung tema “Dari Timur untuk Indonesia Berintegritas.”

Pemilihan tema itu membawa pesan bahwa upaya membangun budaya integritas tidak hanya berlangsung di pusat-pusat pemerintahan. Daerah dan masyarakat di kawasan timur Indonesia juga memiliki peran dalam membentuk budaya antikorupsi.

Nilai kejujuran, gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat menjadi bagian dari modal sosial tersebut.

Bagi para pelajar, nilai-nilai itu dapat diterapkan melalui tindakan yang sederhana. Tidak menyontek, tidak berbohong, bertanggung jawab terhadap tugas, serta berani menolak ajakan melakukan kecurangan merupakan contoh sikap integritas di lingkungan sekolah.

KPK Mengajar kemudian tidak berhenti pada pengenalan istilah korupsi. Para siswa didorong memahami bahwa pemberantasan korupsi juga berkaitan dengan pilihan-pilihan kecil yang mereka buat setiap hari.

Dari ruang kelas di Sumba Barat Daya, pendidikan antikorupsi itu diarahkan untuk membentuk kebiasaan sebelum menjadi karakter. Generasi muda pun ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun budaya integritas di tengah masyarakat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *