Regional

Potensi Pertanian dan Tantangan Ekonomi Jadi Perhatian pemerintah Kecamatan Wewewa Utara

×

Potensi Pertanian dan Tantangan Ekonomi Jadi Perhatian pemerintah Kecamatan Wewewa Utara

Sebarkan artikel ini
Camat Wewewa Utara, Gidion Napu, SE. Ia menyebut pertanian masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat dan mendorong pengembangan usaha ekonomi produktif di wilayahnya. (DetikTimur.com/Kobus Tena)

Detik Timur – Camat Wewewa Utara, Gidion Napu, SE, menyebut sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat di wilayahnya. Namun, pengembangan potensi tersebut masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, sumber daya manusia dan akses pasar.

Menurut Gidion, pertanian masyarakat saat ini masih didominasi tanaman jagung, padi dan ubi-ubian. Untuk persawahan, masyarakat masih mengandalkan sawah tradisional karena belum tersedia jaringan irigasi, salah satunya berada di Desa Bondo Ponda.

Sementara komoditas seperti kopi dan kemiri terdapat di sejumlah desa, tetapi masih menjadi usaha sampingan masyarakat. Hingga kini belum ada komoditas unggulan yang secara khusus menjadi perhatian pemerintah untuk dikembangkan sebagai produk unggulan kecamatan.

Di sektor peternakan, usaha ayam pedaging dan ayam petelur mulai dilirik masyarakat. Sejumlah BUMDes juga bergerak di bidang tersebut.

Namun, kata Gidion, pelaku usaha masih menghadapi persoalan keterbatasan pengetahuan dalam pemeliharaan ayam dan sumber daya manusia. Kepastian konsumen serta pasar yang jelas juga menjadi tantangan.

Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG), menurut dia, mulai membuka harapan baru bagi pengusaha kecil karena memberikan gambaran pasar yang lebih menjanjikan.

“Dengan adanya MBG, sedikit mendobrak niat para pengusaha kecil secara individu,” kata Gidion.

Ia berharap masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi terus mengembangkan usaha ekonomi produktif, termasuk UMKM, kerajinan tenun dan keterampilan yang dimiliki masyarakat.

Gidion juga mengingatkan masyarakat agar mengurangi gaya hidup boros. Menurutnya, biaya untuk pendidikan, kesehatan dan pengembangan usaha ekonomi perlu lebih diprioritaskan.

Ia menilai pendidikan karakter bagi generasi muda juga penting, dengan dimulai dari contoh kehidupan sehari-hari seperti hidup sehat, tidak boros dan menjaga perilaku.

“Lebih memperkuat biaya hidup, baik itu pendidikan, kesehatan maupun usaha ekonomi, daripada biaya mahal untuk kepentingan budaya yang cenderung boros,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *