Detik Timur – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena mendorong desa tidak hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi.
Hal itu disampaikan Melki melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Selasa, 11 Agustus 2026. Dalam unggahan tersebut, ia menyoroti pengembangan produk lokal di Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.
Melki menyebut semangat pengembangan ekonomi desa terlihat dalam peluncuran Selai Kacang Tuadale dan Cookies Tuadale di kawasan Pantai Oesina. Kedua produk tersebut disebut lahir dari bahan baku lokal dan dikerjakan oleh masyarakat setempat.
“Desa jangan cuma jadi tempat mengambil bahan mentah. Desa harus jadi tempat lahirnya produk, usaha, dan masa depan,” tulis Melki dalam unggahannya.
Menurut dia, pengembangan produk lokal bukan sekadar menghasilkan makanan olahan. Lebih jauh, hal itu berkaitan dengan upaya meningkatkan nilai tambah bahan baku sekaligus membangun perputaran ekonomi di tingkat desa.
Melki mengatakan Pemerintah Provinsi NTT melalui program One Village One Product (OVOP) menyiapkan intervensi sebesar Rp100 juta bagi desa yang memiliki potensi produk unggulan.
Namun, ia menegaskan dana tersebut harus diperlakukan sebagai modal yang terus bergerak, bukan sekadar anggaran yang habis dibelanjakan.
“Rp100 juta ini bukan uang yang habis dibelanjakan. Ini modal yang harus hidup,” sambungnya.
Ia menggambarkan rantai usaha tersebut dimulai dari bahan mentah yang diolah menjadi produk, kemudian dikemas, memperoleh izin, dipasarkan, hingga menghasilkan keuntungan. Keuntungan itu selanjutnya diharapkan dapat kembali menjadi modal untuk mengembangkan usaha.
Melki juga mendorong produk desa yang telah memenuhi standar agar tidak hanya dipasarkan di lingkungan desa. Produk tersebut, kata dia, perlu dibawa ke pasar yang lebih luas.
“Kalau produk kita sudah memenuhi standar, mari kita bawa keluar dari pasar desa. NTT Mart harus menjadi salah satu pintunya,” kata Melki.
Ia menilai NTT selama ini masih menjadi pasar bagi banyak produk dari luar daerah. Karena itu, penguatan produksi lokal dinilai penting agar masyarakat NTT tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi produsen.
“Kita terlalu lama menjadi pasar bagi produk dari luar. Sekarang waktunya NTT memproduksi, NTT membeli, dan uangnya berputar di NTT,” tegasnya.
Melalui pengembangan produk unggulan desa, Melki berharap potensi bahan baku lokal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.***












