Detik Timur – politeknik Kesehatan Bakti Sumba menyudisium 73 mahasiswa dari tiga program studi untuk tahun akademik 2025–2026. Prosesi berlangsung di Hotel Sima, Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Puluhan lulusan tersebut berasal dari Program Studi D-IV Manajemen Informasi Kesehatan, D-IV Gizi Klinik, dan D-III Farmasi.
Dalam sambutannya, Rektor Politeknik Kesehatan Bakti Sumba, Ardiansyah, S.K.M., M.Gizi., menegaskan bahwa yudisium bukan sekadar perubahan status dari mahasiswa menjadi lulusan. Menurut dia, kelulusan membawa tanggung jawab baru bagi para tenaga kesehatan untuk menerapkan ilmu yang diperoleh selama pendidikan.
“Yudisium bukan garis akhir dari perjalanan belajar. Yudisium adalah titik awal ketika ilmu yang selama ini saudara pelajari harus mulai memberikan arti bagi kehidupan dan bagi orang lain,” kata Ardiansyah.
Ia mengatakan, keberhasilan pendidikan kesehatan tidak cukup diukur dari jumlah mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan. Ukuran lainnya adalah sejauh mana lulusan mampu memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan kehidupan masyarakat, khususnya di Sumba.
Menurut Ardiansyah, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari keterbatasan akses pelayanan kesehatan dan obat-obatan hingga persoalan gizi dan kesenjangan layanan. Kondisi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan yang baru menyelesaikan pendidikan.
Karena itu, ia meminta para lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi menjadikan kompetensi yang dimiliki sebagai bekal untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Ardiansyah secara khusus menyampaikan pesan kepada lulusan dari masing-masing program studi agar bekerja sesuai kompetensi dan menjaga tanggung jawab profesional.
Kepada lulusan D-III Farmasi, ia menekankan pentingnya ketelitian, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dalam pelayanan kefarmasian. Menurut dia, penggunaan obat yang aman berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
Ia mengingatkan bahwa obat bukan sekadar produk yang diserahkan kepada pasien. Di balik setiap obat, terdapat harapan pasien untuk sembuh dan kepercayaan keluarga kepada tenaga kesehatan.
Sementara itu, kepada lulusan D-IV Gizi Klinik, Ardiansyah meminta mereka memahami persoalan gizi secara lebih luas.
Pelayanan gizi, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan makanan, angka kecukupan gizi, atau hasil pengukuran antropometri, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi kesehatan, kemampuan ekonomi, lingkungan, dan budaya masyarakat.
Adapun kepada lulusan D-IV Manajemen Informasi Kesehatan, ia menekankan pentingnya ketepatan data, kerahasiaan informasi, dan pengelolaan rekam medis secara profesional.
Di tengah transformasi digital bidang kesehatan, informasi yang akurat dan terlindungi menjadi bagian penting dalam mendukung pengambilan keputusan serta meningkatkan kualitas pelayanan.
Ardiansyah mengingatkan bahwa tenaga pengelola informasi kesehatan tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga memahami etika dan menjaga privasi pasien.
Ketiga program studi tersebut, menurut dia, memiliki kompetensi berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama, yakni mendukung pelayanan kesehatan yang bermutu dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
Ia pun mengapresiasi perjuangan para mahasiswa yang telah melewati berbagai tahapan pendidikan, mulai dari tugas akademik, praktik, hingga ujian.
Bagi para lulusan, yudisium menjadi awal untuk membuktikan kemampuan mereka di tengah kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.***












