Detik Timur – Runtuhnya gletser di kawasan Himalaya diduga menjadi pemicu banjir besar yang menerjang perbatasan Nepal dan Tibet, Rabu, 26 Agustus 2026. Sedikitnya 165 orang tewas di Nepal dan 826 lainnya masih hilang.
Di sisi Tibet, 558 orang juga dilaporkan belum ditemukan. Banjir membawa lumpur dan material longsor yang menghantam rumah, jalan, serta jembatan.
Di Distrik Nuwakot, Kalpana Malla menyaksikan keluarganya terseret banjir. Ayah, ibu, saudara perempuan, serta anak-anak saudaranya tidak sempat menyelamatkan diri.
“Banjir ini merenggut segalanya. Saya dan putra saya memanjat atap rumah dan selamat, tapi saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kami bisa selamat,” Kata Kalpana, seperti dikutip DetikTimur.com dari BBC News Indonesia, Pada Kamis (27/8/2026).
Penyintas lainnya, Keshav Prasad Baral, 68 tahun, juga kehilangan istrinya. Ia sempat mencoba meraih tangan istrinya ketika lumpur dan air menerjang, namun sang istri terseret arus.
“Empat atau lima jam kemudian, sebuah helikopter datang untuk menyelamatkan saya. Istri saya masih berada di suatu tempat di bawah lumpur. Dia telah tiada,” ujar Keshav.
Penyebab bencana sempat diduga berkaitan dengan gempa bumi. Namun, Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan aktivitas seismik yang terekam berkaitan dengan tanah longsor, bukan gempa.
“Analisis tambahan terhadap gelombang seismik periode panjang menunjukkan bahwa energi seismik tersebut justru dihasilkan oleh tanah longsor,” demikian pernyataan USGS.
Runtuhan es dan batu kemudian memicu aliran material di Sungai Lhende. Material tersebut diduga membentuk bendungan alami sebelum akhirnya jebol dan membawa air, lumpur, serta batu ke wilayah permukiman.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Indonesia mencatat 45 WNI tinggal di Kathmandu. Mereka bekerja di sektor perhotelan.
Pencarian korban masih berlangsung. Perbedaan angka orang hilang antara Nepal dan Tibet terjadi karena pendataan dilakukan oleh masing-masing otoritas.***


