Detik Timur – Kepala SDK Kalena Wanno, Hendrik Seingo Kii, S.Ag., menerjunkan puluhan siswa untuk ikut memeriahkan Karnaval Budaya Nusantara dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 10 Agustus 2026.
Rombongan SDK Kalena Wanno dikoordinir langsung oleh Hendrik Seingo Kii. Para siswa mengenakan pakaian dan ornamen budaya Nusantara. Selain itu, terdapat barisan Pramuka yang mengikuti kegiatan tersebut sebagai persiapan fisik dan mental untuk kegiatan Pramuka yang digelar pada 12 Agustus 2026.
“Kami bawa baju budaya Nusantara, atraksi yel-yel, dan ada Pramuka untuk mencoba kekuatan mereka dalam rangka mengikuti yang dilaksanakan bulan Agustus mendatang,” kata Hendrik.
Hendrik menyambut baik kegiatan tersebut sebagai wahana inspirasi dan ruang ekspresi bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat berbagai bentuk seni, pajangan budaya dan kreasi gerakan yang nantinya dapat menjadi dasar pengembangan materi edukasi melalui contoh pentasan karnaval di Tambolaka Culinary Center (TCC).
Antusiasme siswa-siswi SDK Kalena Wanno terlihat selama mengikuti karnaval. Sorakan yel-yel juga menggema di antara peserta karnaval, terlebih saat kegiatan dikomandoi langsung oleh Kepala SDK Kalena Wanno.
“Pertama dengan kegiatan ini kami sangat senang siswa-siswa sangat antusias karena sekali-sekali kegiatan ini membuat mereka berolahraga dan ada banyak hal yang mereka dapatkan,” terang Hendrik.
Karnaval Budaya Nusantara menjadi ajang pentas seni bagi para siswa untuk menunjukkan identitas budaya. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi wujud komitmen SDK Kalena Wanno dalam menjaga dan merayakan keberagaman dalam momentum HUT ke-81 RI, dalam bingkai semangat kebhinekaan dan patriotisme menuju Indonesia Emas 2045.
“Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81 tentu bukan acara seremonial belaka tetapi ada makna bagaimana kita mempertahankan kemerdekaan 81 tahun lalu,” timpal Hendrik.
Ia juga menyoroti degradasi budaya akibat gempuran arus globalisasi dan perubahan zaman yang mudah diakses lintas generasi. Menurut dia, kondisi tersebut semakin merambah dan dapat melunturkan budaya asli daerah.
Ia menilai perlu ada upaya filterisasi yang komprehensif dan terorganisir untuk menekan masuknya nilai-nilai budaya luar agar tidak menggerus nilai-nilai luhur yang telah mengawal peradaban kehidupan sejak dahulu.
Menurut Hendrik, salah satu upaya menjaga kelestarian budaya, khususnya budaya Sumba, adalah memperkuat rasa kecintaan terhadap budaya sendiri sehingga setiap orang merasa bangga dan memiliki.
Budaya juga perlu aktif ditampilkan secara konsisten dalam berbagai kegiatan, sehingga generasi muda dapat mengenal, merayakan, dan mewariskan budaya tersebut kepada generasi berikutnya.
“Dengan berpakaian budaya mempunyai makna tidak terlena atau bahkan hilang dengan pengaruh budaya barat yang masuk di Indonesia, supaya kita tetap mempertahankan budaya, karena budaya kita juga jauh lebih baik,” pungkasnya.***












