Through The Limits

0
20
sumber foto: https://www.nytimes.com/2018/03/04/obituaries/roger-bannister-dead.html

Sebelum tahun 1950-an sebagian dokter di dunia, membuat suatu analisa bahwa jika seorang pelari berlari dengan kecepatan dibawah 4 menit untuk jarak 1 mil maka paru-parunya akan hancur dan jantungnya tidak mampu berdenyut lebih cepat untuk melampaui waktu tersebut. Artinya, orang tersebut akan kehilangan nyawa. Analisa para dokter berpengaruh secara luas, banyak orang percaya, tidak seorangpun mampu menembus waktu lari tersebut.Namun ditengah keyakinan itu, dalam waktu bersamaan seorang Sir Roger Bannister (1929-2018), pelari asal inggris mampu merobohkan “kebenaran biologis” yang dibuat para dokter. Pada sore yang berangin di Oxford 6 Mei 1954, Bannister berlari empat putaran dalam waktu 3 menit, 59,4 detik. 

Sebuah prestasi yang mencengangkan sekaligus menjadi gempa bagi dunia medis internasional. Bannister membuktikan diri, “hasil tak pernah menghianati proses”. Ia hidup di dalam harapan, hope. Terus memotivasi dirinya, berlatih secara serius dan kontinyu. Pada ahirnya ia mampu menembus limit, keterbatasan dan keyakinan banyak orang. Andai ia percaya anggapan umum dan analisis para dokter, mungkin ia tidak akan pernah membuat sejarah terpenting dalam sejarah lomba Lari dunia. Bannister membuktikan anggapan para dokter seratus persen salah, sekaligus mampu melewati batas maksimum dari dirinya sendiri.

Selasa sore di markas Lingkaran Survei Indonesia (LSI), di rawamangun. Saya mendapat penjelasan dari Bang Adji Alfarabi. Suatu ketika di bandara, ia membeli sebuah buku, saya lupa judul buku yang disebut. Menurutnya, buku itu memuat penjelasan tentang orang-orang yang mampu melewati keterbatasan dirinya. Jika kita bandingkan Cristiano Ronaldo dan Lionel Mesi, tentu yang berbakat adalah Mesi. Tapi, Ronaldo lah yang mampu melewati limitnya. Serupa Bannister, hidup di dalam harapan, bekerja keras, latihan serius secara kontinyu, kemudian berhasil. Ronaldo membuktikan dirinya berkelas. 

Setiap orang berpotensi melewati keterbatasan dari dirinya sendiri. Saya juga teringat dengan Safitri Zahra Togubu, penulis muda dari marijang, Tidore. Ia secara biologis tidak sesempurna kebanyakan orang, terkendala dalam berbicara dan lebih banyak diam. Di dalam diamnya, Safitri tidak kehilangan hope, harapan. Ia mampu memindahkan kelemehannya, secara terus-menerus menumbuhkan semangat literasi. Dengan giat dan tekun, Ia menuangkan segala pikiran, gagasan dan perasannya lewat tulisan. Pada ahirnya, Safitri mampu menembus keterbatasannya, trough the limit. Sejauh ini Ia sangat produktif menulis cerpen dan novel. Kita adalah Bannister, Ronaldo, dan Zafitri dari kehidupan kita masing-masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here