Tan Malaka dan Ternate (2)

0
17
Sumber foto: Ilustrator lefo.id

Harry A. Poeze, sejarawan Belanda yang meneliti kehidupan Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia, mengakui sangat tertarik dengan fakta adanya relasi antara Tan dan Ternate. Meskipun belum meneliti secara khusus fakta sejarah ini, lewat surel kepada saya, ia meminta saya mengirim catatan tentang AM Kamaruddin alias Oom Sau, Pahlawan Perintis Kemerdekaan yang dalam perjuangannya banyak bersinggungan dengan kehidupan Tan.

Poeze hanya menyebut jejak samar Tan Malaka terbaca saat tokoh PKI Budisutjitro ditahan di Ternate bulan Mei 1926. Budisutjitro adalah bendahara PKI yang diangkat bersama Marsum (komisaris) sesuai hasil Kongres PKI III di Jogjakarta Desember 1924.Tan tercatat sebagai salah seorang pendiri PKI.

Dalam bukunya, The Rise Of Indonesian Communism, Ruth T. McVey menulis bahwa PKI di Ternate mulai berkembang tahun 1919. Beberapa penduduk asal Jawa mengorganisir pembentukan Budi Mulia, sebuah perkumpulan yang dianggap Belanda pro Sarekat Islam. Namun Budi Mulia gagal karena minim dukungan penduduk lokal. Elit PKI kemudian meminta bantuan Samaun yang baru terpilih sebagai ketua PKI untuk membantu pegembangan di Ternate. Samaun sendiri sempat berkunjung ke Ternate. Seorang bekas prajurit asal Manado bernama J.C. Dengah lalu ditunjuk jadi ketua di Ternate namun gerakan ini tetap tak berkembang.

Ekspansi nyata dan pengaruh komunis di Ternate baru terlihat tahun 1921 saat Raden Mas Gondojuwono, seorang turunan Pangeran Diponegoro, dibantu Said Hamid Assor menjadikan PKI sebagai gerakan protes rakyat yang gencar dan aktif (belakangan HS Assor menjadi pejabat biro PKI yang terpilih dalam Kongres III mewakili Ternate). Untuk memperkuat gerakan melawan Belanda di Ternate, PKI membuka biro pengaduan dan menjanjikan pembebasan pajak. PKI juga mengkonsolidasi gerakan hingga pembentukan sebuah biro di Sula.

Selain itu, mereka juga menerbitkan sebuah surat kabar mingguan, mengorganisir pelaut lokal, mensponsori pemogokan buruh pelabuhan dan membuka kursus kuliah untuk mendidik anak muda Ternate. Gerakan ini mereda tahun 1922 ketika para pemimpinnya ditangkap namun bangkit lagi tahun 1924. Inti dari gerakan ini adalah menuntut Indonesia merdeka dan mengakhiri pendudukan Balanda. Merdeka adalah cita-cita besar yang jadi dasar pemikiran dan tindakan Tan Malaka.

Meski terlahir dari keluarga muslim yang taat dan khatam Al Quran pada usia 10 tahun, Tan muda melihat PKI, organisasi yang semula bernama de Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) yang didirikan oleh Henk Sneevlit dkk, sebagai elemen penting dan strategis yang bisa menyatukan semangat dan gerakan untuk merdeka. Sikap revolusioner Tan terus berkembang dan menemukan pedestal yang kokoh. Imaji Indonesia yang merdeka makin menemukan pola yang dinamis.

Tan melihat perkembangan PKI sangat progresif-revolusioner. Bayangkan sebuah ide baru, di tengah rakyat yang terjajah dan sebagian besar buta huruf, mayoritas Islam, bisa menggerakan politik revolusioner dalam tempo yang tak lebih dari 10 tahun untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Belanda. Tanpa mengurangi peran sejarah Boedi Oetomo, Sarekat Islam, dan perserikatan kebangsaan lain di waktu itu, tetap saja tertinggal beberapa langkah dari PKI. Setidaknya, dalam aksi-aksi real politik, seperti pemogokan, demonstrasi acak, maupun yang terorganisir, boikot, atau bahkan propaganda serta agitasi yang terbuka melawan Belanda.

Bagian menarik lainnya adalah strategi PKI berinteraksi dari dalam terutama di tubuh Sarekat Islam untuk bermitra. Taktik ini membuat PKI kian mengakar dan bahkan mampu memperoleh dukungan signifikan dari kalangan Islam multi corak. Bukan hanya Islam Abangan dan Sekuler, tetapi juga Islam Religius, seperti di Solo melalui Haji Misbach, di Banten, di Semarang, Palembang, Minangkabau via Datuk Batuah, dan bahkan meluas hingga ke Ternate.

PKI menempatkan Islam sebagai sebagai sekutu dan mitra aliansi strategis. Tan Malaka juga terkesan sangat membela Islam. Menurutnya, agenda terpenting PKI merujuk pada pemahaman Islam, yakni membebaskan alam pikir masyarakat Indonesia yang masih terbelenggu oleh mistisme, feodalisme, dan perbudakan. Bisa dikatakan, hubungan PKI dan Islam saat itu bersifat dialektis dan belum tercemar oleh noda sejarah apapun.

Dalam pidato saat Kongres Komunis Internasional IV di Moscow tanggal 12 November 1922, Tan tanpa sungkan mengajak komunis untuk bekerja sama dengan apa yang ia sebut Pan Islamisme. Di hadapan Lenin, Tan secara terbuka mengkritik tesis Karl Marx yang menempatkan agama sebagai candu masyarakat yang harus dilawan. Menurutnya, gerakan komunis tidak akan berhasil mengusir kolonialisme (Belanda di Indonesia) jika tidak bekerja sama dengan Pan Islamisme. Karena pandangan inilah, Tan kemudian dikucilkan karena dianggap berseberangan dengan ideologi komunis. Ia bahkan dikeluarkan dari PKI setelah dirinya “difitnah” bertanggungjawab atas kegagalan pemberontakan Silungkang 1926 – sesuatu yang tak pernah direstuinya saat dirinya bersembunyi di Singapura.

Menurut saya, relasi PKI dan Islam inilah yang jadi pintu masuk korelasi Tan dan Ternate. PKI tumbuh dan besar di Jawa dan memiliki sekitar 13 ribu anggota, tetapi mereka butuh cabang yang kuat di daerah terutama yang berbasis Islam. Tujuannya agar gerakan melawan Belanda mendapat dukungan luas dan tak hanya terjadi di Jawa. Sebagai seorang intelektual, Tan tentu punya referensi sejarah yang lebih dari cukup tentang kegemilangan Sultan Babullah di Ternate dan Sultan Nuku di Tidore.

Ia tentu kagum dengan heroisme para Sultan di tanah Maluku bagian Utara. Bahkan pemberontakan Banau tahun 1914 yang berujung pada matinya Agerbeek, kepala perwakilan Belanda di Jailolo, disebut dalam literatur gerakan PKI sebagai pemberontakan petani yang ingin bebas dari kolonialisme.

Di level lokal, pertautan antara cita-cita dan polarisasi gerakan komunis versi Tan Malaka yang menginginkan Indonesia merdeka 100% menginspirasi banyak tokoh perjuangan di Ternate, dan mendapat banyak pengikut terutama dari kalangan Islam. Selain perlawanan terbuka terhadap Belanda, jalur pendidikan melalui pendirian sekolah juga dilakukan. Begitu juga pembentukan organisasi pergerakan yang terstruktur dan bergerak masif.

Beberapa tokoh lokal sepaham dengan Tan dalam menuntut Indonesia Merdeka. Setelah merdeka mereka kemudian berganti ideologi meninggalkan sosialisme komunis. Sebutlah nama AM Kamaruddin alias Oom Sau, Haji Ngade atau Machmud Haji Ali yang terlibat dalam pemberontakan Kapal Zeven Provincien, Daniel Bohang yang berjuang bersama Oom Sau dan dibuang ke Digul hingga Haji Salahuddin Talabuddin.

Haji Salahudin menurut catatan Adnan Amal, adalah anggota SI Merah, sama dengan Tan, dan memberontak pada Belanda tahun 1925. Lolos dari sergapan Belanda, Haji Salahuddin kemudian tertangkap tahun 1941 dan dibuang ke Digul. Bebas setahun kemudian, Haji Salahuddin mengorganisir perlawanan terhadap Belanda melalui perkumpulan Sarikat Jamiatul Iman Wal Islam hingga ditangkap dan diadili tahun 1947. Bulan Juni 1948, Pahlawan Kemerdekaan ini dieksekusi mati oleh Belanda di kawasan Skep Ternate, tempat yang belakangan mekar sebagai sebuah kelurahan bernama Salahudin.

Dari inspirasi Tan Malaka lah pergerakan kemerdekaan Indonesia di Ternate jadi berwarna. Banyak tokoh lokal lahir dan berjuang. Sesuatu yang bertahun sebelumnya ditulis tanpa jeda oleh Tan saat bergerak dalam persembunyian di Eropa, China, Jepang dan beberapa negara tetangga. Jejak Tan paling dekat dengan Ternate terbaca saat berada di Filipina. Dua kali keluar masuk negara itu, tempat terdekat Tan untuk bersembunyi bisa jadi ada di Halmahera. Beberapa sumber lokal yang belum terkonfirmasi dan masih dalam penelusuran menyebut Tan Malaka pernah ada di Susupu, Halmahera Barat.

Saiful Bahri Ruray mengakui Tan dalam banyak kesempatan berjuang bersisian dengan OomSau. Dalam beberapa kali pergerakan di Jawa, mereka nyaris tertangkap. Lolos karena berpura jadi orang gila. Selain ikut pemberonakan PKI di Silungkang tahun 1926, Oom Sau bahkan pernah diburu ke Singapura, Thailand, Vietnam hingga ke China dan saat itu bisa jadi bersama-sama Tan sebagaimana yang diceritakan Maryam Adjaran, tokoh pendidikan perempuan asal Tidore – salah satu murid Oom Sau.

Yang pasti, Tan adalah panutan kepemimpinan yang memiliki visi jangka panjang dan berjuang tanpa berharap jabatan. Keinginannya hanya melihat Indonesia Merdeka 100%, tanpa kompromi. Landasan perjuangan dan kunci sukses Tan terletak pada konsistensi dan orisinalitas pemikirannya yang berpihak pada rakyat. Ia juga meletakkan dasar penting bagi dunia pendidikan melalui pendirian sekolah gratis. Ironisnya, 74 tahun setelah kita merdeka, Pahlawan Nasional ini bahkan masih takut didiskusikan nama dan gagasannya secara terbuka oleh anak muda di negeri ini. Padahal jauh di Belanda, nama Tan Malaka resmi diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Ijburg, Amsterdam.

Meminjam nasehat Emile Durkheim, jika kita melihat sejarah yang secara sosial sebagai perihal biasa atau thing, maka akan berujung pada tatapan yang nyaman. Bagaimanapun, PKI dan terutama Tan Malaka pernah menyebar benih perlawanan, menggerakan revolusi, dan karena itu juga, menyumbang pada proses pembebasan nasional dari penjajahan kolonial Belanda. Tan dan Ternate adalah puzzle terpenting dari foto besar perjuangan pergerakan untuk merdeka. Begitu juga Oom Sau, Haji Ngade, Daniel Bohang dan Haji Salahuddin. Pada merekalah sepatutnya kita menaruh hormat menundukan kepala. Berharap inspirasi mereka tak lekang dimakan masa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here