Karim dan Garis Nasab yang Terputus

0
18
Keraton Kesultanan Tidore

Senin petang menjelang magrib. Saya bersama dua sahabat, Safrudin Abas dan Faris Bobero bertemu dengan Abdullah Dahlan, yang biasa disapa Ko Aloed di rumahnya. Suasana pun semakin beraroma ketika istrinya, bunda Anthy menyajikan kopi dabe, kopi khas Tidore.

Sambil menikmati kopi. Ko Aloed membawa kami pada perbincangan dengan seorang kawannya asal Seram. Malam itu hujan deras sekali. Ko Aloed bagai tape record, berusaha me-replay ingatannya kembali secara detail. Ihwal keberadaan Sultan Tidore. Saidul Jehad el Ma’bus Amiruddin Syah Kaicili Paparangan, atau Sultan Nuku di pulau Seram yang berhasil ia rekam dari penuturan kawannya itu.

Orang-orang Seram percaya. Nuku adalah orang sakti, atau yang di berkati [Jou Barakati]. Mirip dengan kepercayaan orang Jawa tentang “Satria Piningit”. Riwayat tentang Nuku, proses pengisahannya dilakukan dengan ritual tertentu, dan dikisahkan secara rahasia. Tradisi pengisahan Nuku dengan ritual tertentu diwariskan turun temurun, dan dirawat hingga saat ini.

“Orang Seram, baik yang dewasa bahkan anak-anak sangat mengenal sosok Nuku. Mereka mampu bercerita riwayat para pejuang terdahulu, namun, jika bercerita tentang Nuku, mereka sangat menjaga kerahasiannya. Harus ada ritual khusus sebelum bercerita tentang Nuku,” Tutur Ko Aloed.

Tetiba saya teringat dengan sahabat saya Karim Namkatu dari Ambalau. Kabupaten Buruh selatan provinsi Maluku. Pertemuan dengannya 2013 silam di Ternate dalam satu pelatihan organisasi. Disela pelatihan kami berdua selalu berhasil mencuri waktu dan berdiskusi banyak hal tentang hubungan Tidore dan moyangnya. Dengan logat Ambon yang kental, kepada saya Karim menuturkan asal-usulnya. Konon menurut Karim moyangnya berasal dari Tidore.

Dengan bahasa yang terbata-bata Karim mengisahkan, bahwa moyangnya bersama prajurit lainnya dari kesultanan Tidore diutus pihak keraton untuk mencari Sultan yang hilang sejak melawat ke Seram. Tanggal dan tahunnya luput dari ingatan Karim. Setelah pecarian Sultan ke Seram. Sebagian prajurut pulang. Sebagiannya lagi memilih menetap dan menikah dengan orang Seram dan Ambalau, termasuk moyangnya.

Sebagaimana makna filsafat Jou se Ngofangare; Manusia diproses dari ti-ada ke-ada kemudian kembali lagi ke-tiada. Sebelum kembali ke-tiada moyangnya meninggalkan tanda berupa peci dan tupa (tempat penyimpnan pinang-sirih dan kapur yang terbuat dari kayu bentuknya kotak persegi empat). Tanda itu yang dibawa moyangnya ketika melawat ke Seram mencari Sultan yang hilang. Tanda yang ditinggalkan moyangnya itu sedikit banyak membantu dan mempermudah pelacakan di Tidore.

Atas niatan karim itu. Usai pelatihan, mulailah saya mendampinginya menjelajah garis nasab moyangnya di Tidore. Seingat saya, kami berangkat menjelang magrib saat senja turun diantara selat Maitara. Lalu kami pun perlahan hilang ditelan malam.

Setiba di Tidore, saya dan Karim dijemput Suaib. Kawan saya dari Tidore asal kelurahan Tuguiha. Karena sudah larut malam kami kemudian memilih rehat dan tidur semalam di sekretariat HMI Cabang Tidore. Keesokannya kami mula-mula ke Gurabunga menghadap Sowohi. Sowohi adalah lembaga adat yang mengurusi dunia gaib, yang dalam bahasa lokal Tidore menyebutnya dunia Kornono. 

Konsep kekuasaan yang dianut Kesultanan Tidore memang berbeda sama sekali dengan tiga kesultanan lainnya di Kepulauan Maluku (Ternate, Jailolo, dan Bacan). Selain dunia Kornono, di Tidore juga dikenal dengan kekuasaan dunia sita-sita. Yaitu urusan dunia ditangani oleh Sultan dan para Bobato (setingkat menteri dalam strukur Negara).

Konsep kekuasaan yang diterapkan ke dalam struktur adat Tidore adalah cerminan dari sistem kepercayaan yang dianut masyarakat Tidore. Orang-orang Tidore percaya di Tidore selain dihuni manusia, juga dihuni oleh bangsa Jin dan mahluk halus lainnya (dunia gaib). Mereka juga percaya keberadaan Gosimo, leluhur orang Tidore. Mereka sangat menghayati Borero Gosimo, atau pesan-pesan leluhur. Bagi orang Tidore merawat dan memelihara Borero Gosimo, sama halnya dengan merawat dan memelihara diri sendiri. Meneruskannya kepada anak-cucu adalah kewajiban mereka.

Beberapa Borero Gosimo saya kutip di bawah ini;

“Rubu-rubu rame-rame, hisa se lili kie se gam la yokumati se cahaya, sogado-gado ngofa se dano, (sama-sama kita menjaga tanah leluhur agar cahaya kebenaran selalu menyinari hingga anak cucu kelak)”

“ngone na ahu se gogahu, rejeki se rahmati, sone se ahu, ge jou madubo, jou allah ta‘ala yo atur sefato. no sogewa-gewa ni tabalai se tabareko, la sojud se malahi te jou allah ta’ala, (hidup dan kehidupan, rejeki dan rahmat, mati dan hidup adalah restu dan izin Allah SWT. Biarpun kalian berada pada kesibukan dunia yang amat sangat, usahakan sedapat mungkin luangkan waktu bersujud kepada Allah SWT)”

Ah, sudahlah. Saya hampir lupa Karim. Jin dan Gosimo insya Allah saya akan tulis di bagian lain.

Setelah berdiskusi dengan Sowohi. Karim mendapat informasi yang cukup tentang hubungan Tidore dengan Seram dan sekitarnya. Tapi informasi tentang moyangnya masih sangat minor. Kamipun beranjak pulang. Saya memerhatikan wajah Karim, nampaknya gelisah. Apa yang ia cari belum juga ditemuinya.

Malam itu nasib baik berpihak kepadanya. Sesampainya kami di rumah Suaib di Kelurahan Tuguiha. Suaib menceritakan ihwal moyang Karim kepada ayahnya. Tanpa suara ayahnya beranjak ke kamar. Malam itu juga Suaib keluar bersama Karim entah kemana.  Sekembalinya ke rumah mereka menceritakannya kepada saya. Menurut Suaib ada cerita yang sama dari Tuguiha yang berasal dari klan Tokaka. Rupanya malam itu mereka sempat bertemu dengan beberapa tokoh adat dikampung itu.

Tak berselang lama. Ayah Suaib keluar dari kamarnya. Dibawanya pena dan selambar kertas. Ia duduk di depan kami lalu menyoret-nyoret silsilah. Yang berkait dengan garis nasab Karim dan moyangnya di Tidore. Diklaimnya berdasarkan silsilah. Moyang Karim berasal dari klan Taran. Namun Karim terdesak waktu dan harus balik ke Ambon. Pencariannya pun berakhir.

Malam itu ditengah derasnya hujan. Saya membayangkan. Barangkali, saya dan orang Tidore lainnya adalah orang dekat tapi terasa jauh. Orang-orang Tidore yang hidup di atas tanahnya sendiri kadang alpa terhadap sejarah dan tradisinya. Sedangkan seorang Karim terus mencari jalan pulang pada asal-muasal moyangnya meski jejaknya begitu sumir. (*).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here