Regional

Gubernur NTT Pimpin Rapat Forkopimda, Evaluasi Penanganan Darurat Gempa Flores

×

Gubernur NTT Pimpin Rapat Forkopimda, Evaluasi Penanganan Darurat Gempa Flores

Sebarkan artikel ini
Gubernur NTT Melkiades Laka Lena memimpin rapat bersama Forkopimda Provinsi NTT di Ruang Rapat Sonbay II, Makorem 161/Wirasakti Kupang, Senin (31/8/2026), untuk mengevaluasi dan memperkuat penanganan masa tanggap darurat gempa Flores. (Foto: Facebook Melkiades Laka Lena)

Detik Timur – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melkiades Laka Lena memimpin rapat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi NTT untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat penanganan masa tanggap darurat gempa Flores.

Rapat berlangsung di Ruang Rapat Sonbay II, Makorem 161/Wirasakti Kupang, Senin, 31 Agustus 2026.

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua DPRD NTT Emelia J. Nomleni, Sekda NTT Fransiskus Sales Sodo, Danrem 161/Wirasakti Hendro Cahyono, Karo Ops Polda NTT Joni Afrizal Syarifuddin, Kadisops Lanud El Tari Sulistiyo Utomo, Asops Dankodaeral VII Muchson Abadi, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah Provinsi NTT.

Rapat digelar ketika penanganan dampak gempa masih berlangsung di sejumlah wilayah Flores.

Berdasarkan data BPBD per 30 Agustus 2026, bencana tersebut menyebabkan 115 orang meninggal dunia, 1.780 orang mengalami luka-luka, dan 172.050 orang mengungsi.

Kerusakan juga terjadi pada 90.600 rumah. Selain itu, ribuan fasilitas pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, kantor pemerintahan, dan fasilitas umum dilaporkan terdampak.

Dalam rapat tersebut, Melkiades menekankan pemerataan pemenuhan kebutuhan dasar bagi seluruh pengungsi.

“Kebutuhan dasar harus menjangkau seluruh pengungsi secara merata, termasuk air bersih, sanitasi, layanan kesehatan dan makanan,” kata Melkiades.

Ia mengatakan pemerintah juga perlu mengantisipasi munculnya penyakit yang berpotensi menyebar di lokasi pengungsian, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), campak, dan pertusis.

Perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak, juga menjadi perhatian dalam penanganan masa tanggap darurat.

Menurut sosok pemimpin itu, distribusi bantuan harus menggunakan data yang akurat dan terus diperbarui. Langkah tersebut diperlukan agar bantuan yang disalurkan dapat menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.

Di sisi lain, pemerintah mulai mendorong pemulihan aktivitas masyarakat dan sektor produktif secara bertahap. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kondisi keamanan di masing-masing wilayah terdampak.

Aktivitas kegempaan masih terjadi hingga Senin, 31 Agustus 2026.

Berdasarkan catatan BMKG hingga pukul 18.00 WITA, tercatat 10.442 gempa susulan. Sebanyak 161 di antaranya dirasakan masyarakat.

Meski aktivitas gempa susulan mulai menunjukkan tren penurunan, pemantauan tetap dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi perkembangan situasi.

Melkiades mengatakan penanganan gempa Flores tidak dapat dilakukan oleh satu pihak.

“Penanganan gempa Flores membutuhkan kerja bersama,” ujarnya.

Ia mengajak pemerintah, TNI-Polri, dunia usaha, relawan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat untuk terus bergotong royong dalam penanganan bencana.

Menurut dia, kerja bersama diperlukan agar bantuan, perlindungan, dan proses pemulihan dapat benar-benar dirasakan seluruh warga yang terdampak gempa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *