Hukrim

Babi Sudah Diserahkan, Kerbau Tak Kunjung Datang, Janji Oknum Kades Mataredi Berulang Kali Molor

×

Babi Sudah Diserahkan, Kerbau Tak Kunjung Datang, Janji Oknum Kades Mataredi Berulang Kali Molor

Sebarkan artikel ini
Eduardus Bulu Dappa bersama dengan istrinya saat diwawancarai DetikTimur.com di kediamannya, Rabu malam (30/9/2026). Eduardus mengungkap persoalan kesepakatan penggantian seekor babi dengan kerbau yang disebut melibatkan Kepala Desa Mataredi, Aris Umbu Rauta. (DetikTimur.com/Kobus Tena)

Detik Timur – Jarak antara Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Tengah harus beberapa kali ditempuh Eduardus Bulu Dappa bersama istrinya, Carolina K. Bidu, untuk menagih seekor kerbau yang disebut menjadi pengganti seekor babi.

Kerbau itu disebut merupakan kewajiban Kepala Desa Mataredi, Kecamatan Katiku Tana, Aris Umbu Rauta, setelah menerima babi milik pasangan tersebut pada 17 Juni 2026.

Eduardus, warga Kampung Gollu Dodo, Desa Gollu Sapi, Kecamatan Wewewa Tengah, mengatakan babi yang diserahkan berukuran sekitar delapan orang pikul.

Menurut dia, sejak awal sudah ada kesepakatan antara dirinya bersama Carolina dengan Aris bahwa babi tersebut diganti seekor kerbau dengan ukuran tanduk sekitar 10 sentimeter atau tadirri.

Saat penyerahan, Carolina juga memberikan selembar kain dan seekor ayam.

Persoalan kemudian berlanjut ketika Carolina meminta uang lenni rabana sekitar Rp1,5 juta. Eduardus mengatakan Aris hanya memberikan Rp100 ribu dan menyampaikan bahwa uang tersebut disimpan terlebih dahulu.

Pada saat yang sama, Aris disebut berjanji menyerahkan kerbau pada 26 Juni 2026. Janji itu tidak terealisasi menurut Eduardus.

Mereka kemudian menunggu sampai Juli. Ketika komunikasi melalui telepon dan WhatsApp tidak mendapatkan respons, Eduardus dan Carolina memutuskan datang langsung ke rumah Aris pada 11 Juli.

Perjalanan tersebut juga belum menghasilkan pertemuan dengan Aris. Menurut Eduardus, saat itu mereka mendapat informasi bahwa kepala desa sedang berada di Loli.

Mereka kemudian pulang dan kembali memberikan kesempatan.

Namun, pada 5 Agustus, Eduardus dan Carolina kembali mendatangi kediaman Aris di Kampung Watu Manu.

Dalam komunikasi melalui telepon, Aris disebut sedang berada di Mamboro. Menurut Eduardus, Aris menyampaikan sedang mencari kerbau untuk menyelesaikan kewajibannya.

Pasangan tersebut kembali diminta menunggu satu minggu.

Waktu kembali berjalan. Karena belum memperoleh kepastian, Eduardus dan Carolina kembali berangkat pada 21 Agustus. Mereka mengaku berangkat sekitar pukul 04.00 dan tiba di sekitar kediaman Aris pada pukul 06.00.

Pada kunjungan ketiga itulah mereka mengaku bertemu langsung dengan Aris.

Menurut Eduardus, dalam pertemuan tersebut Aris kembali memberikan kepastian. Kali ini, mereka diminta menunggu sampai 2 September 2026.

Aris juga disebut mengatakan sedang mencari kerbau jantan dengan ukuran lebih besar. Bahkan, menurut Eduardus, jika kerbau jantan yang dimaksud tidak diperoleh, kerbau lain yang telah menjadi utang kepada mereka tetap akan diberikan.

“Kalau tidak dapat yang jantan, anak kerbau yang saya dapat, yang saya utang dengan Bapa Nona, tinggal saya telepon Bapa Nona datang ambil,” kata Eduardus menirukan pernyataan Aris.

Eduardus mengaku memilih tetap mempercayai kesepakatan tersebut karena memandang Aris sebagai saudara.

Ia mengatakan persoalan tersebut sejak awal ingin diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, perjalanan berulang kali dari Sumba Barat Daya ke Sumba Tengah membuat pihaknya meminta adanya kepastian.

“Kami datang bukan untuk mencari masalah. Kami hanya mau apa yang sudah disepakati itu diselesaikan,” ujar Eduardus.

Ia berharap persoalan tersebut tidak kembali berlarut dan janji penyelesaian dapat direalisasikan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *